Saya baru saja
terbangun dari tidur yang tidak terlalu lelap. Di setengah malam sebelumnya
telah saya habiskan untuk berperang antara otak dan perasaan benci yang ada
dalam hati saya kepada seorang pengajar, mengerjakan revisi tugas yang
dikerjakan bulan Januari dan April. Dalam proses mengerjakan revisi tersebut,
tiba-tiba saja konsentrasi saya buyar. “Kata
orang, kalau seseorang sering insomnia, bisa jadi karena kesepian. Ya kan?”
Ah, saya baru sadar. Setelah pulang dari ‘asrama’ jam tidur saya berkurang.
Sering kali mata tidak mau diajak kompromi, dia lebih suka memperhatikan sebuah
benda kecil berlayar lebar dibandingkan dengan mengistirahatkan pemiliknya.
Tidak hanya itu, kadang jikalau sudah terlelap, saya akan tetap terbangun di
tengah malam. Entah. Sering sekali begitu. Hmm, setelah saya pikir-pikir, ada
benarnya juga pernyataan tadi, mungkin memang saya kesepian atau mungkin saja
karena saya merindukan seseorang. Bisa saja keduanya.
Bicara tentang
rindu. Rasanya saya ingin marah. Apa rindu itu nggak punya jam? Jam tangan?
Nggak deh! Jam dinding? Apa nggak punya?! Saya lelah kalau pada waktu-waktu
tertentu harus tiba-tiba merindukan seseorang. Rindu nggak pernah tau waktu!
Nakal! Rindu itu kejam! Nggak pengertian!
Beberapa waktu yang
lewat, saya pernah baca tulisan salah seorang teman. Dia bilang, “Kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum,
dan kalau rindu, utarakan.” Ah sakit! Ya, saya tertampar. Teman saya benar,
kalau rindu ya sudah seharusnya diutarakan, bukan malah disimpan. Tapi teman,
apalah daya saya sebagai orang yang terhina atas nama sebuah perasaan. Memiliki
sebuah perasaan seperti ini bahkan bukan sebuah keinginan saya. Apalagi harus
merindu pada seseorang setiap hari seperti ini. Sejujurnya ini bukan sebuah
kebaikan yang patut untuk dipertahankan. Saya rasa, rindu ini seperti sebuah
rindu yang dilarang untuk merindu. Ia, rindu yang terjebak dalam perangkap yang
telah ia buat sendiri. Merindukan yang tidak seharusnya ia rindukan, setiap
waktu tertentu, dalam sebuah ilusi tertentu.
Tolong jangan tanyakan
ya, kepada siapa rindu ini saya persembahkan. Karena percuma juga, kalian nggak
akan tau. Wkss!
Untuk menggulung
rindu yang sudah sulit sekali diatur ini, Saya hanya mampu berkutat dengan sebuah papan huruf di
depan saya sekarang. Mengetik ulang kata “rindu” yang tidak akan pernah terucapkan.
Berusaha menguatkan diri atas kejadian-kejadian yang sudah lewat. Tak apalah
saya harus menahan ratusan rindu ini asalkan yang saya rindukan tidak pernah
tahu kalau saya dengan berusaha untuk tidak merindu padanya. Tak apalah saya
harus menyimpan ribuan perasaan yang tidak mampu terluapkan ini, asalkan dia
tetap bahagia bersama dunianya di sana. Tak apa, rindu ini terpenjara. Biarkan.
Ps: Untuk malam
ini, saya biarkan kau, rindu, berkeliaran semaunya di kepala. Tapi tidak di
malam lain! Siap-siap saja terjaring! Kubungkus rapat lalu kusimpan
dalam-dalam. Sehingga kamu, rindu, tidak berkeliaran liar pada waktu-waktu
seperti ini.
- dengan setengah
mengantuk, saya.