Sabtu, 18 April 2020

Note: 3 Juli 2016. 12:57.

Saya baru saja terbangun dari tidur yang tidak terlalu lelap. Di setengah malam sebelumnya telah saya habiskan untuk berperang antara otak dan perasaan benci yang ada dalam hati saya kepada seorang pengajar, mengerjakan revisi tugas yang dikerjakan bulan Januari dan April. Dalam proses mengerjakan revisi tersebut, tiba-tiba saja konsentrasi saya buyar. “Kata orang, kalau seseorang sering insomnia, bisa jadi karena kesepian. Ya kan?” Ah, saya baru sadar. Setelah pulang dari ‘asrama’ jam tidur saya berkurang. Sering kali mata tidak mau diajak kompromi, dia lebih suka memperhatikan sebuah benda kecil berlayar lebar dibandingkan dengan mengistirahatkan pemiliknya. Tidak hanya itu, kadang jikalau sudah terlelap, saya akan tetap terbangun di tengah malam. Entah. Sering sekali begitu. Hmm, setelah saya pikir-pikir, ada benarnya juga pernyataan tadi, mungkin memang saya kesepian atau mungkin saja karena saya merindukan seseorang. Bisa saja keduanya.

Bicara tentang rindu. Rasanya saya ingin marah. Apa rindu itu nggak punya jam? Jam tangan? Nggak deh! Jam dinding? Apa nggak punya?! Saya lelah kalau pada waktu-waktu tertentu harus tiba-tiba merindukan seseorang. Rindu nggak pernah tau waktu! Nakal! Rindu itu kejam! Nggak pengertian!
Beberapa waktu yang lewat, saya pernah baca tulisan salah seorang teman. Dia bilang, “Kalau lapar ya makan, kalau haus ya minum, dan kalau rindu, utarakan.” Ah sakit! Ya, saya tertampar. Teman saya benar, kalau rindu ya sudah seharusnya diutarakan, bukan malah disimpan. Tapi teman, apalah daya saya sebagai orang yang terhina atas nama sebuah perasaan. Memiliki sebuah perasaan seperti ini bahkan bukan sebuah keinginan saya. Apalagi harus merindu pada seseorang setiap hari seperti ini. Sejujurnya ini bukan sebuah kebaikan yang patut untuk dipertahankan. Saya rasa, rindu ini seperti sebuah rindu yang dilarang untuk merindu. Ia, rindu yang terjebak dalam perangkap yang telah ia buat sendiri. Merindukan yang tidak seharusnya ia rindukan, setiap waktu tertentu, dalam sebuah ilusi tertentu.

Tolong jangan tanyakan ya, kepada siapa rindu ini saya persembahkan. Karena percuma juga, kalian nggak akan tau. Wkss!

Untuk menggulung rindu yang sudah sulit sekali diatur ini, Saya hanya  mampu berkutat dengan sebuah papan huruf di depan saya sekarang. Mengetik ulang kata “rindu” yang tidak akan pernah terucapkan. Berusaha menguatkan diri atas kejadian-kejadian yang sudah lewat. Tak apalah saya harus menahan ratusan rindu ini asalkan yang saya rindukan tidak pernah tahu kalau saya dengan berusaha untuk tidak merindu padanya. Tak apalah saya harus menyimpan ribuan perasaan yang tidak mampu terluapkan ini, asalkan dia tetap bahagia bersama dunianya di sana. Tak apa, rindu ini terpenjara. Biarkan.

Ps: Untuk malam ini, saya biarkan kau, rindu, berkeliaran semaunya di kepala. Tapi tidak di malam lain! Siap-siap saja terjaring! Kubungkus rapat lalu kusimpan dalam-dalam. Sehingga kamu, rindu, tidak berkeliaran liar pada waktu-waktu seperti ini.

- dengan setengah mengantuk, saya.

0 komentar:

Posting Komentar